Dalam lirik lagu cinta terbaru kali ini kita akan membahas album Mix~Max, WISDOM yang dirilis pda 14 Februari 2012. Album kesebelas Mix~Max ini adalah album terakhir mereka sebelum hiatus panjang. Sekaligus album telaris sepanjang sejarah band tersebut, yang terjual lebih dari 10 juta kopi. Dalam album ini, lirik bernuansa dunia sufi ala Firman dan Satir semakin menjadi-jadi. Hampir semua lirik ada dalam nuansa demikian, ditambah dengan unsur berbau alkimia dan antariksa.
Dibandingkan dengan album pendahulunya, SIGN (2010), album WISDOM ini sesuai judulnya, berisi lirik yang lebih matang tentang pencarian Tuhan. Album ini dibuka oleh lagu 'Tasbih Sirius' yang merupakan versi lain dari diturunkannya Adam dan Hawa ke dunia oleh Tuhan. Bukan sebagai bentuk pengusiran, tetapi sebagai bentuk pengujian, sepert dalam kalimat 'Ruh ini selalu menangis menunggumu datang. Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih'.
Lagu lain yang dengan tema serupa memenuhi album ini, mulai dari Dunia Jantung, Kapsul Apollo, Gugusan Bintang, Hujan Sarajevo, hingga track terakhir, Tempat Bintang Dibentuk dan Diterbangkan. Semua mengisahkan perjalanan spiritual dalam mengenal Tuhan. Lagu 'Deja Vu' bertema sama, tetapi merupakan ajakan untuk semua umat manusia untuk kembali kepada-Nya. Sementara lagu 'Ayu Fatima' adalah lagu paling 'ngepop' dalam album ini, mengisahkan seorang ayah yang berpisah dengan anaknya.
MIX~MAX
"WISDOM"
Highest Position: #1
Sold: 10.567.854
Released: February 14, 2012
Tracks:
01. Tasbih Sirius*
02. Hermes Trismegistus
03. Dunia Jantung
04. Deja Vu*
05. Ayu Fatima*
06. Kapsul Apollo*
07. Gugusan Bintang*
08. Hujan Sarajevo
09. Mission Imposible V*
10. Surga di Kemiringan Tanah
11. Tempat Bintang Dibentuk dan Diterbangkan
"TASBIH SIRIUS"
lirik: Firman/ lagu: Erick
Anak kecil kau mesti turun dari sini
Lihatlah bebiru bumi yang berudara putih
Biar kutitipkan kau menjadi keping ganda
Lelaki-perempuan yang senantiasa jatuh cinta
Anak kecil jangan gentar jika harus begini
Kenalilah di atas bebiru langit berawan
Biar kububuhkan tanda merah di bahu kiri
Rasa nyeri kala menengadahi Sirius terang ini
Masa depanmu bukanlah di planet bumi
Dia kelak diberantakkan sebagai debu
Masa depanmu ada di dalam tabung ini
Aku bahkan lebih kecil daripada debu
Apakah engkau masih mampu melihatku
Apakah engkau nanti melihat lingkar cintaku
Ruh kita sudah terpisah begitu jauh
Ingatanlah yang menyambung sepasang sahabat
Apakah langit mampu meremukkan bentukmu
Ataukah engkau yang menjelajahinya sesuka hati
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematianlah yang menyambung sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Anak kecil kau mesti berdiam sementara
Di tanah asing yang memintamu jadi tuan
Biar kuingatkan kala kau lupa peraturan
Kastil sejatimu tak berhak dikenali sembarang
Anak kecil jalanilah pengembaraan panjang
Tiada lagi aku yang menagihkan penghirupanmu
Sebagai gantinya kutanam rindu berkepanjangan
Akan kampung halaman tempat ruhmu berlari riang
Masa depanmu bukanlah di tubuh menua ini
Dia kelak musnah kala napasmu dituai lagi
Masa depanmu ada di bintang terjauh ini
Aku bahkan lebih dekat daripada hatimu
Apakah engkau masih mampu tertawa lapang
Apakah ada pengganti yang sebanding denganku
Ruh kita sudah terpisah sekian lama pula
Ingatanlah yang mengikat sepasang sahabat
Apakah bumi mampu membinasakan rasa cintamu
Ataukah engkau yang meledakkan matahari lagi
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Apakah engkau masih mampu melihatku
Apakah engkau nanti melihat lingkar cintaku
Ruh kita sudah terpisah begitu jauh
Ingatanlah yang menyambung sepasang sahabat
Apakah bumi mampu membinasakan rasa cintamu
Ataukah engkau yang meledakkan matahari lagi
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Mana mungkin aku jatuh cinta pada selainmu
Seandainya kau tahu ingin kumusnahkan waktu
Ruh kita sudah terlalu lama menahan rindu
Tentang ciuman pertama pada pagi persuaan itu
Apakah alam semesta mampu menampung cintaku
Seandainya kau tahu betapa istimewanya dirimu
Ruh kita sudah terlalu sering menunggu pagi
kala jantungmu tiada lagi menumpahkan air mata
Selamat datang di lingkaran waktu tak berwaktu
"HERMES TRISMEGISTUS"
lirik: Firman/ lagu: Satir, Erick
Berhenti menatap nyalang pada perempuan tua
Yang umurnya setara pergerakan bintang-bintang
Ditegakkannya kepala tak sabar melihatku bergegas
Mencipta serangkaian percobaan laboratorium mati
Tak mau hanya mengandalkan akal dalam gelap gulita
Sesuatu benderang menyeruak lepas dari jantung ini
Wahai utusan sampaikan pecah air mata pada matahari
Aku mencintainya bahkan sebelum diciptakannya waktu
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru namamu tiga ratus kali!
Bagai langit yang dipaksa mengenakan cerahnya biru
Takdir yang melepasku darimu begitu menyakitkan
Malaikat macam apa yang mengajariku berbicara
Jadilah ramuan yang mengantar perjumpaan kita!
Wahai utusan yang tiada pernah datang terlambat
Aku mencintainya bahkan sebelum bentuk dikenal
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru nama rahasia tiga kali
Alam semesta ini mengembang pergi menjauhimu
Akan kulawan hingga tiada yang bisa memisahkan kita!
Wahai utusan sampaikan pecah jantungku pada matahari
Aku mencintainya bahkan sebelum diciptakannya waktu
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru namamu tiga ratus kali!
Wahai utusan yang tiada pernah datang terlambat
Aku mencintainya bahkan sebelum bentuk dikenal
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kupanggil nama rahasia memenuhiku!
"DUNIA JANTUNG"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Aku datang, aku datang
Ke tanah kau membuang
Air mata masih menggenang
Berharap cinta ini tak hilang
Jangan pergi begitu saja
Tanpa meninggalkan kepastian
Katakanlah kapan tiba waktu
Engkau berkenan menjemputku
Aku baik-baik saja
Tak mendengarkah
kumenjerit lantang
Siapa yang tak gentar
ditinggalkan di tempat ini
Menggigil seorang diri
Aku tiba, aku tiba
dari tanah penuh nestapa
Membawa jantung di tangan
Menyerahkannya kepadamu
Periksalah adakah yang ternoda
Oleh pembicaraan kepada selainmu
Aku baik-baik saja
Tak terlihatkah di sana
Air mata yang merintih
Siapakah yang mau
ditinggalkan di tempat ini
Menggigil seorang diri
Aku baik-baik saja
Tak mengetahuikah
Kukunci semua perasaan
Siapakah yang begitu tega
Meninggalkanku di sini
Mendendami hari persuaan
Aku datang melewati kematian
Berdiri tepat di depan matamu
Tolong jangan menghindar lagi
Tidak cukupkah sakit hati ini
Terasing dari kekasih sendiri
Aku baik-baik saja
Tak mendengarkah
kumenjerit lantang
Siapa yang tak menderita
ditinggalkan di tempat itu
Menggigil seorang diri
Aku baik-baik saja
Tak mengetahuikah
Cinta ini selamanya abadi
Siapakah yang begitu tega
Meninggalkanku di sana
Hanya demi membuktikannya
"DEJA VU"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir, Erick
Kau pernah melihatnya!
Kita semua bersaudara
Berasal dari saripati tanah
Diasingkan dari ruh sejati
Tidak ada yang berhak
merasa lebih istimewa
Derajatku derajatmu juga
Kita hanyalah tamu di sini
Istirahat sejenak lalu pergi
Untuk apa berebut perbekalan
Yang sementara tetap sementara
Tubuh cuma pakaian yang mesti
diganti ketika lusuh tak layak lagi
Misi kita sama; mendekati sesuatu yang
lebih dekat daripada kedekatan apa pun
Jangan mudah tertipu dengan penglihatan mata
Belum tentu yang kaupikir baik adalah kebaikan
Jangan mudah menyerah ketika dikalahkan takdir
Dunia kemudian hari pasti menolak mentah-mentah
Makhluk serakah yang hanya haus kemenangan
Engkau dan aku bisa memutus
lingkaran penderitaan jika mau
Menderita dan bukan bersenang
Sementara yang mesti kaudekati
Senantiasa menangis bagaimana
bisa kau malah ingin tertawa riang?
Misi kita sama; mengenali sesuatu yang
lebih mudah dikenali daripada apa pun!
Dunia ini seperti mimpi berkepanjangan menjelang subuh
Cuma yang tak mau tahulah yang lebih memilih tidur lelap
Terjagalah; jadilah orang pertama yang melihat matahari
Dia tak terbit di ufuk timur; tapi dalam hati yang menangis
Jangan mudah tertawa dengan kemenangan sesaat
Belum tentu yang kaupikir buruk adalah keburukan
Tajamkan penglihatan berpeganglah pada kesetiaan
Ingatlah janji yang kauucapkan sebelum datang ke sini
Terjagalah; jadilah orang pertama yang melihat matahari
Dia tak terbit di ufuk timur; tapi di hati tak lelah berjuang
Engkau pasti pernah melihatnya; pasti pernah melihatnya!
"AYU FATIMA"
lirik: Firman/ lagu: Ramadhan
Hujan jatuh menggenangi stasiun tua
Menghentikan titik laju kereta bisu
Peluit yang bertiup dari kota jauh
Nyaring terdengar di celup jantung
Redup lampu bahkan terbawa paksa
Duduk menanti denganmu di kursi biru
Kugenggam tiket akhir hampir menguap
Kadang ada masanya ingin berlama-lama
Wahai, tapi siapakah pengendali waktu?
Sekali lagi perlihatkan senyummu
Jangan tertunduk lesu seperti itu
Tak tahukah hal ini menyesakkanku?
Jika beruntung kubakar nyala api
di tengah hujan yang hanya terlihat
dari kedua bola mata cemerlangmu ...
Dedaunan gugur bahkan memalingkan mukanya
Tak tega melihat sejengkal perpisahan ini
Bicaralah barangkali bisa menghambat air
mata yang sebentar lagi tertumpah di pipi
Genggaman tangan mungilmu menghangatkanku
Sekali lagi perlihatkan senyummu
Jangan berwajah muram seperti itu
Siapakah yang tega meninggalkanmu?
Kepergian ini hanya sebentar adanya
di tengah kereta kutumpangkan sumpah
kembali secepatnya pada dua bola mata
Gadis kecil lugu berpipi merahku
dalam pelukan mamanya tersayang ...
"KAPSUL APOLLO"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Melihatmu yang bagai malaikat
Senantiasa datang ketika terdesak
Menyisakan perih kala kau pergi
Berharap masih berhak ditemui
Menyaksikan hari penciptaan itu
Kau mau bertukar kata sekian lama
Beruntung aku masih mengingatnya
Dalam pengasingan melenakan ini
Hanya ingin secepatnya kembali
Ketika yang lain terjerumus
Memilih hidup sementara
Engkau menarikku lepas
Memaksa terus bertahan
Andai aku layak mengucap satu kata saja
Di depanmu hanya bisa menyayat luka
Kapan takdir mau memihak perasaan ini
Hati yang rindu bisa memberanikan diri
Engkau pasti sudah memperhitungkan
Hingga ku mampu melangkah sejauh ini
Ketika yang lain terjerembab
Memilih hidup sementara
Engkau merantaiku erat
Membungkam keluh kesah
Jangan sampai cinta ini bertepuk sebelah
tangan. Apa pun kutempuh demi engkau
yang senantiasa berkeliling tak kenal lelah
Demi bintang yang baru merekah layu
Alam semesta ini mesti dihapus jadi debu
Jika tidak demikian bagaimana kita bertemu?
Kukunci hati berpaling dari yang lain
Menantimu datang membawa pulang
Ketika kita adalah bentuk tak dikenal
"GUGUSAN BINTANG"
lirik: Firman/ lagu: Satir
Berhentilah merayuku untuk pulang
Air mata ini pasti menuntunku kembali
Bersabarlah menunggu tugas selesai
Berapa kali berkata milikmu seutuhnya
Mereka yang tak tahu darimana berasal menyesallah
Tak pernah mengenali perempuan perontok hati ini
Belum juga beranjak sejengkal melangkah
Wajahnya telah mencipta rindu tak terarah
Mereka yang mencari hal lain selama pengembaraan
Menderitalah karena tak punya harta karun tersembunyi
Matamu yang senantiasa sembab adalah misteri
Lelaki mana yang tak takluk bersujud kepadamu
Wahai, biarkanlah aku mati untukmu
Menyerahkan napas dalam kuasamu
Wahai, jangan biarkan lebih menderita
Tak mau sedetik saja kehilanganmu
Wahai, aku hanya ingin mematuhimu
Tak satu pun tindakan tanpa perintahmu
Wahai, yang senantiasa bersembunyi
Adakah yang melebihi jatuh cintaku?
Berhati-hatilah jika aku kembali; kubalas
Perlakuanmu yang mengasingkan ruh ini
Tak adakah dalam pikiran; semakin jauh
jarak kita; tiada niatan lain kecuali bertemu
Yang lain hanya ingin memanfaatkanmu
Yang lain hanya bisa mengeluhkan sikapmu
Yang lain telah sekian lama melupakanmu
Yang lain rela keluar lingkaran demi hal lain
Aku tak pernah, aku tak pernah demikian
Cuma aku, cuma akulah yang setia kepadamu
Wahai, biarkanlah aku mati untukmu
Menyerahkan napas dalam kuasamu
Wahai, jangan biarkan lebih menderita
Tak mau sedetik saja kehilanganmu
Wahai, lenyapkan semua keinginanku
Tak satu pun tindakan tanpa setujumu
Wahai, yang senantiasa bersembunyi
Adakah yang melebihi jatuh cintaku?
Berhentilah merayuku untuk pulang
Air mata ini pasti menuntunku kembali
Bersabarlah menunggu tugas selesai
Berapa kali berkata milikmu seutuhnya
Berhati-hatilah jika aku kembali; kubalas
Perlakuanmu dengan selalu di sebelahmu
Tak adakah dalam pikiran; semakin jauh
jarak kita; tiada niatan lain kecuali bertemu
"HUJAN SARAJEVO"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Kala terjaga di jantungmu kubertanya
Mengapa ku terlahir dalam bentuk tak dikenal
Terlalu banyak hal yang menyesakkan hati
Mengapakah tempat ini basah oleh air mata
Dengan senyum kausebut pasti aku pergi
mengembara ke tempat asing tanpa dirimu
Apakah ini bentuk pengusiranmu
Ataukah kau takut kehilanganku?
Jangan pernah membuangku di sana
Bolehkah aku memilih tak hidup saja
Namun jika ini adalah permintaanmu
Aku mau asalkan senantiasa ada hujan
Seperti tempat kediaman kita dahulu
Kala terbangun di tanah gersang ini
Hampir tak kurasa pahit meninggalkanmu
Sebagai gantinya biar kuambil semua derita
Hancur tak apa agar senantiasa mengingatmu
Biarkan aku menjadi diri sendiri
Jangan jadikan seperti mereka
Yang menghinakanmu, pura-pura mengingatmu
Yang mengingkarimu, tapi mengaku bersetia
Jangan pernah melupakanku di sini
Bolehkah aku memilih secepatnya mati
Namun jika ini adalah keinginanmu
Aku mau asalkan senantiasa ada hujan
Seperti tempat kita berbicara dahulu
Aku hanya ingin menangis
Aku hanya ingin menderita
Aku hanya ingin menerima
Seperti yang biasa kauperbuat
Aku hanya ingin mengingatmu
Seperti setiap titik hujan ini ...
"MISSION IMPOSSIBLE V"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick
Jatuh dan membenamlah dalam tanah
Hingga kala bangkit kalau lebih tinggi
Daripada malaikat pemilik butir cahaya
Demi mendekatiku yang menghinakanmu
Pecahkan air mata rindu menderitalah
Hingga tiada perasaan yang kau miliki
Biar aku meresap masuk sepenuhnya
Mission impossible ini sudah dimulai
Kupertaruhkan jantung penggerak alam semesta
Jangan merengek seperti tak bisa berbuat apa-apa
Aku memang sengaja membuatmu cacat
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Engkau musnah sekalipun apa peduliku
Dari debu lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh persendian ruhku
Panggil dan ratapilah namaku setiap detik
Hingga tiada yang lebih hina daripada kau
Kerjakanlah perintah tidak masuk akal ini
Akulah yang sepanjang hidup kaucari-cari
Kujamin langit dan bumi akan menyerah kalah
Jangan bingung seperti anak kecil hilang arah
Aku memang sengaja melubangi hatimu
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Hancur berantakan sekalipun apa peduliku
Dari debu lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh persendian ruhku
Aku tak menerima rayuan gombal palsu
Mengaku cinta tapi menomorduakanku
Aku berhak mengujimu sampai kapanpun
Karena hanya akulah tempat kembalimu
Aku memang sengaja membuatmu cacat
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Aku memang sengaja melubangi hatimu
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Hilanglah jadi titik yang lebih kecil dari debu
Dari sana lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh perhentian ruhku
Aku mencintaimu, aku hanya mencintaimu!
"SURGA DI KEMIRINGAN TANAH"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick
Kunjungilah surga di titik kemiringan galaksi ini
Jauh berbeda dari deskripsi kebanyakan orang
Tempat kami tak mengenal malaikat dan bidadari
Bahkan tiada kebahagiaan dan kehidupan apa pun
Selain cahaya terang yang belum pernah kauketahui
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Berlarilah mendekati surga di kedalamanmu sendiri
Buang kerangka berpikir salah yang selalu mengendap
Kami tidak menyajikan kenikmatan fana ala tempatmu kini
Bahkan air mata di bumilah yang menjadi kunci rahasia
Upayamu bersua sahabat terdekat yang paling kaukenali
Kami adalah peniup napas alam semesta ini
Kami tiada berbeda dengan dirimu yang sejati
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Jika pertemuan kita hanya menyayat luka perih berulang kali
Hidupmu di tanah asing bernama bumi adalah tragedi terburuk
Kematianlah satu-satunya jembatan penghubungmu dengan kami
Semakin banyak engkau tercabik semakin pula engkau memahami
Kami adalah peniup napas alam semesta ini
Kami tiada berbeda dengan dirimu yang sejati
Tinggalkan duniamu yang memisahkan kita
Kunjungilah surga di robekan hatimu sendiri
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Kami adalah dirimu dalam bentuk yang lain
Kami adalah penghuni rahasia jantungmu ini
Bagaimana mungkin engkau tak mengenali?
"TEMPAT BINTANG DIBENTUK DAN DITERBANGKAN"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Di tempat ini bintang-bintang kubentuk
Di sini pula mereka akan kupecah-belahkan
Di tanah ini bintang-bintang kuterbangkan
Di sini pula kelak mereka kutenggelamkan
Di titik yang sama ruhmu kutiupkan
Di titik ini pula kita akan dipertemukan
Kusayat jantungmu perlahan
Memasukkan semesta ke dalamnya
Tanpa menjahitnya kembali
Bilamanakah engkau menyadari
Betapa pahitnya ini untukku
Tak berani melihat air matamu
Tak tega menyaksikan deritamu
Di jantungmu ini kulukiskan perjalanan waktu
Di hari-hari panjangmu kuperkenalkan diriku
Di derai tangismu ada bahasa jeritanku
Di wajah marahmu ada kuasa hukumku
Dalam senyummu ada beribu ampunanku
Dalam cintamu ada segenggam penuh cintaku
Kurobek jantungmu perlahan
Memasukkan semesta ke dalamnya
Tanpa menjahitnya kembali
Bilamanakah engkau menyadari
Betapa getirnya takdir ini untukku
Semua demi kebaikanmu
Semua demi kebaikanmu
Kurobek jantungmu perlahan
Mengendapkan diriku sendiri
Hingga sepenuhnya milikmu
Bilamanakah engkau memahami
Kapankah kuberani berbicara
Betapa dalam aku mencintaimu
Betapa dalamnya mencintaimu
Dibandingkan dengan album pendahulunya, SIGN (2010), album WISDOM ini sesuai judulnya, berisi lirik yang lebih matang tentang pencarian Tuhan. Album ini dibuka oleh lagu 'Tasbih Sirius' yang merupakan versi lain dari diturunkannya Adam dan Hawa ke dunia oleh Tuhan. Bukan sebagai bentuk pengusiran, tetapi sebagai bentuk pengujian, sepert dalam kalimat 'Ruh ini selalu menangis menunggumu datang. Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih'.
Lagu lain yang dengan tema serupa memenuhi album ini, mulai dari Dunia Jantung, Kapsul Apollo, Gugusan Bintang, Hujan Sarajevo, hingga track terakhir, Tempat Bintang Dibentuk dan Diterbangkan. Semua mengisahkan perjalanan spiritual dalam mengenal Tuhan. Lagu 'Deja Vu' bertema sama, tetapi merupakan ajakan untuk semua umat manusia untuk kembali kepada-Nya. Sementara lagu 'Ayu Fatima' adalah lagu paling 'ngepop' dalam album ini, mengisahkan seorang ayah yang berpisah dengan anaknya.
MIX~MAX
"WISDOM"
Highest Position: #1
Sold: 10.567.854
Released: February 14, 2012
Tracks:
01. Tasbih Sirius*
02. Hermes Trismegistus
03. Dunia Jantung
04. Deja Vu*
05. Ayu Fatima*
06. Kapsul Apollo*
07. Gugusan Bintang*
08. Hujan Sarajevo
09. Mission Imposible V*
10. Surga di Kemiringan Tanah
11. Tempat Bintang Dibentuk dan Diterbangkan
"TASBIH SIRIUS"
lirik: Firman/ lagu: Erick
Anak kecil kau mesti turun dari sini
Lihatlah bebiru bumi yang berudara putih
Biar kutitipkan kau menjadi keping ganda
Lelaki-perempuan yang senantiasa jatuh cinta
Anak kecil jangan gentar jika harus begini
Kenalilah di atas bebiru langit berawan
Biar kububuhkan tanda merah di bahu kiri
Rasa nyeri kala menengadahi Sirius terang ini
Masa depanmu bukanlah di planet bumi
Dia kelak diberantakkan sebagai debu
Masa depanmu ada di dalam tabung ini
Aku bahkan lebih kecil daripada debu
Apakah engkau masih mampu melihatku
Apakah engkau nanti melihat lingkar cintaku
Ruh kita sudah terpisah begitu jauh
Ingatanlah yang menyambung sepasang sahabat
Apakah langit mampu meremukkan bentukmu
Ataukah engkau yang menjelajahinya sesuka hati
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematianlah yang menyambung sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Anak kecil kau mesti berdiam sementara
Di tanah asing yang memintamu jadi tuan
Biar kuingatkan kala kau lupa peraturan
Kastil sejatimu tak berhak dikenali sembarang
Anak kecil jalanilah pengembaraan panjang
Tiada lagi aku yang menagihkan penghirupanmu
Sebagai gantinya kutanam rindu berkepanjangan
Akan kampung halaman tempat ruhmu berlari riang
Masa depanmu bukanlah di tubuh menua ini
Dia kelak musnah kala napasmu dituai lagi
Masa depanmu ada di bintang terjauh ini
Aku bahkan lebih dekat daripada hatimu
Apakah engkau masih mampu tertawa lapang
Apakah ada pengganti yang sebanding denganku
Ruh kita sudah terpisah sekian lama pula
Ingatanlah yang mengikat sepasang sahabat
Apakah bumi mampu membinasakan rasa cintamu
Ataukah engkau yang meledakkan matahari lagi
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Apakah engkau masih mampu melihatku
Apakah engkau nanti melihat lingkar cintaku
Ruh kita sudah terpisah begitu jauh
Ingatanlah yang menyambung sepasang sahabat
Apakah bumi mampu membinasakan rasa cintamu
Ataukah engkau yang meledakkan matahari lagi
Ruh ini selalu menangis menunggumu datang
Kematian yang mempertemukan sepasang kekasih
Selamat tinggal dan sampai jumpa lain waktu!
Mana mungkin aku jatuh cinta pada selainmu
Seandainya kau tahu ingin kumusnahkan waktu
Ruh kita sudah terlalu lama menahan rindu
Tentang ciuman pertama pada pagi persuaan itu
Apakah alam semesta mampu menampung cintaku
Seandainya kau tahu betapa istimewanya dirimu
Ruh kita sudah terlalu sering menunggu pagi
kala jantungmu tiada lagi menumpahkan air mata
Selamat datang di lingkaran waktu tak berwaktu
"HERMES TRISMEGISTUS"
lirik: Firman/ lagu: Satir, Erick
Berhenti menatap nyalang pada perempuan tua
Yang umurnya setara pergerakan bintang-bintang
Ditegakkannya kepala tak sabar melihatku bergegas
Mencipta serangkaian percobaan laboratorium mati
Tak mau hanya mengandalkan akal dalam gelap gulita
Sesuatu benderang menyeruak lepas dari jantung ini
Wahai utusan sampaikan pecah air mata pada matahari
Aku mencintainya bahkan sebelum diciptakannya waktu
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru namamu tiga ratus kali!
Bagai langit yang dipaksa mengenakan cerahnya biru
Takdir yang melepasku darimu begitu menyakitkan
Malaikat macam apa yang mengajariku berbicara
Jadilah ramuan yang mengantar perjumpaan kita!
Wahai utusan yang tiada pernah datang terlambat
Aku mencintainya bahkan sebelum bentuk dikenal
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru nama rahasia tiga kali
Alam semesta ini mengembang pergi menjauhimu
Akan kulawan hingga tiada yang bisa memisahkan kita!
Wahai utusan sampaikan pecah jantungku pada matahari
Aku mencintainya bahkan sebelum diciptakannya waktu
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kuseru namamu tiga ratus kali!
Wahai utusan yang tiada pernah datang terlambat
Aku mencintainya bahkan sebelum bentuk dikenal
Meramu sulfur; membakari raksa; emas pun mengendap
Hermes Trismegistus kupanggil nama rahasia memenuhiku!
"DUNIA JANTUNG"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Aku datang, aku datang
Ke tanah kau membuang
Air mata masih menggenang
Berharap cinta ini tak hilang
Jangan pergi begitu saja
Tanpa meninggalkan kepastian
Katakanlah kapan tiba waktu
Engkau berkenan menjemputku
Aku baik-baik saja
Tak mendengarkah
kumenjerit lantang
Siapa yang tak gentar
ditinggalkan di tempat ini
Menggigil seorang diri
Aku tiba, aku tiba
dari tanah penuh nestapa
Membawa jantung di tangan
Menyerahkannya kepadamu
Periksalah adakah yang ternoda
Oleh pembicaraan kepada selainmu
Aku baik-baik saja
Tak terlihatkah di sana
Air mata yang merintih
Siapakah yang mau
ditinggalkan di tempat ini
Menggigil seorang diri
Aku baik-baik saja
Tak mengetahuikah
Kukunci semua perasaan
Siapakah yang begitu tega
Meninggalkanku di sini
Mendendami hari persuaan
Aku datang melewati kematian
Berdiri tepat di depan matamu
Tolong jangan menghindar lagi
Tidak cukupkah sakit hati ini
Terasing dari kekasih sendiri
Aku baik-baik saja
Tak mendengarkah
kumenjerit lantang
Siapa yang tak menderita
ditinggalkan di tempat itu
Menggigil seorang diri
Aku baik-baik saja
Tak mengetahuikah
Cinta ini selamanya abadi
Siapakah yang begitu tega
Meninggalkanku di sana
Hanya demi membuktikannya
"DEJA VU"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir, Erick
Kau pernah melihatnya!
Kita semua bersaudara
Berasal dari saripati tanah
Diasingkan dari ruh sejati
Tidak ada yang berhak
merasa lebih istimewa
Derajatku derajatmu juga
Kita hanyalah tamu di sini
Istirahat sejenak lalu pergi
Untuk apa berebut perbekalan
Yang sementara tetap sementara
Tubuh cuma pakaian yang mesti
diganti ketika lusuh tak layak lagi
Misi kita sama; mendekati sesuatu yang
lebih dekat daripada kedekatan apa pun
Jangan mudah tertipu dengan penglihatan mata
Belum tentu yang kaupikir baik adalah kebaikan
Jangan mudah menyerah ketika dikalahkan takdir
Dunia kemudian hari pasti menolak mentah-mentah
Makhluk serakah yang hanya haus kemenangan
Engkau dan aku bisa memutus
lingkaran penderitaan jika mau
Menderita dan bukan bersenang
Sementara yang mesti kaudekati
Senantiasa menangis bagaimana
bisa kau malah ingin tertawa riang?
Misi kita sama; mengenali sesuatu yang
lebih mudah dikenali daripada apa pun!
Dunia ini seperti mimpi berkepanjangan menjelang subuh
Cuma yang tak mau tahulah yang lebih memilih tidur lelap
Terjagalah; jadilah orang pertama yang melihat matahari
Dia tak terbit di ufuk timur; tapi dalam hati yang menangis
Jangan mudah tertawa dengan kemenangan sesaat
Belum tentu yang kaupikir buruk adalah keburukan
Tajamkan penglihatan berpeganglah pada kesetiaan
Ingatlah janji yang kauucapkan sebelum datang ke sini
Terjagalah; jadilah orang pertama yang melihat matahari
Dia tak terbit di ufuk timur; tapi di hati tak lelah berjuang
Engkau pasti pernah melihatnya; pasti pernah melihatnya!
"AYU FATIMA"
lirik: Firman/ lagu: Ramadhan
Hujan jatuh menggenangi stasiun tua
Menghentikan titik laju kereta bisu
Peluit yang bertiup dari kota jauh
Nyaring terdengar di celup jantung
Redup lampu bahkan terbawa paksa
Duduk menanti denganmu di kursi biru
Kugenggam tiket akhir hampir menguap
Kadang ada masanya ingin berlama-lama
Wahai, tapi siapakah pengendali waktu?
Sekali lagi perlihatkan senyummu
Jangan tertunduk lesu seperti itu
Tak tahukah hal ini menyesakkanku?
Jika beruntung kubakar nyala api
di tengah hujan yang hanya terlihat
dari kedua bola mata cemerlangmu ...
Dedaunan gugur bahkan memalingkan mukanya
Tak tega melihat sejengkal perpisahan ini
Bicaralah barangkali bisa menghambat air
mata yang sebentar lagi tertumpah di pipi
Genggaman tangan mungilmu menghangatkanku
Sekali lagi perlihatkan senyummu
Jangan berwajah muram seperti itu
Siapakah yang tega meninggalkanmu?
Kepergian ini hanya sebentar adanya
di tengah kereta kutumpangkan sumpah
kembali secepatnya pada dua bola mata
Gadis kecil lugu berpipi merahku
dalam pelukan mamanya tersayang ...
"KAPSUL APOLLO"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Melihatmu yang bagai malaikat
Senantiasa datang ketika terdesak
Menyisakan perih kala kau pergi
Berharap masih berhak ditemui
Menyaksikan hari penciptaan itu
Kau mau bertukar kata sekian lama
Beruntung aku masih mengingatnya
Dalam pengasingan melenakan ini
Hanya ingin secepatnya kembali
Ketika yang lain terjerumus
Memilih hidup sementara
Engkau menarikku lepas
Memaksa terus bertahan
Andai aku layak mengucap satu kata saja
Di depanmu hanya bisa menyayat luka
Kapan takdir mau memihak perasaan ini
Hati yang rindu bisa memberanikan diri
Engkau pasti sudah memperhitungkan
Hingga ku mampu melangkah sejauh ini
Ketika yang lain terjerembab
Memilih hidup sementara
Engkau merantaiku erat
Membungkam keluh kesah
Jangan sampai cinta ini bertepuk sebelah
tangan. Apa pun kutempuh demi engkau
yang senantiasa berkeliling tak kenal lelah
Demi bintang yang baru merekah layu
Alam semesta ini mesti dihapus jadi debu
Jika tidak demikian bagaimana kita bertemu?
Kukunci hati berpaling dari yang lain
Menantimu datang membawa pulang
Ketika kita adalah bentuk tak dikenal
"GUGUSAN BINTANG"
lirik: Firman/ lagu: Satir
Berhentilah merayuku untuk pulang
Air mata ini pasti menuntunku kembali
Bersabarlah menunggu tugas selesai
Berapa kali berkata milikmu seutuhnya
Mereka yang tak tahu darimana berasal menyesallah
Tak pernah mengenali perempuan perontok hati ini
Belum juga beranjak sejengkal melangkah
Wajahnya telah mencipta rindu tak terarah
Mereka yang mencari hal lain selama pengembaraan
Menderitalah karena tak punya harta karun tersembunyi
Matamu yang senantiasa sembab adalah misteri
Lelaki mana yang tak takluk bersujud kepadamu
Wahai, biarkanlah aku mati untukmu
Menyerahkan napas dalam kuasamu
Wahai, jangan biarkan lebih menderita
Tak mau sedetik saja kehilanganmu
Wahai, aku hanya ingin mematuhimu
Tak satu pun tindakan tanpa perintahmu
Wahai, yang senantiasa bersembunyi
Adakah yang melebihi jatuh cintaku?
Berhati-hatilah jika aku kembali; kubalas
Perlakuanmu yang mengasingkan ruh ini
Tak adakah dalam pikiran; semakin jauh
jarak kita; tiada niatan lain kecuali bertemu
Yang lain hanya ingin memanfaatkanmu
Yang lain hanya bisa mengeluhkan sikapmu
Yang lain telah sekian lama melupakanmu
Yang lain rela keluar lingkaran demi hal lain
Aku tak pernah, aku tak pernah demikian
Cuma aku, cuma akulah yang setia kepadamu
Wahai, biarkanlah aku mati untukmu
Menyerahkan napas dalam kuasamu
Wahai, jangan biarkan lebih menderita
Tak mau sedetik saja kehilanganmu
Wahai, lenyapkan semua keinginanku
Tak satu pun tindakan tanpa setujumu
Wahai, yang senantiasa bersembunyi
Adakah yang melebihi jatuh cintaku?
Berhentilah merayuku untuk pulang
Air mata ini pasti menuntunku kembali
Bersabarlah menunggu tugas selesai
Berapa kali berkata milikmu seutuhnya
Berhati-hatilah jika aku kembali; kubalas
Perlakuanmu dengan selalu di sebelahmu
Tak adakah dalam pikiran; semakin jauh
jarak kita; tiada niatan lain kecuali bertemu
"HUJAN SARAJEVO"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Kala terjaga di jantungmu kubertanya
Mengapa ku terlahir dalam bentuk tak dikenal
Terlalu banyak hal yang menyesakkan hati
Mengapakah tempat ini basah oleh air mata
Dengan senyum kausebut pasti aku pergi
mengembara ke tempat asing tanpa dirimu
Apakah ini bentuk pengusiranmu
Ataukah kau takut kehilanganku?
Jangan pernah membuangku di sana
Bolehkah aku memilih tak hidup saja
Namun jika ini adalah permintaanmu
Aku mau asalkan senantiasa ada hujan
Seperti tempat kediaman kita dahulu
Kala terbangun di tanah gersang ini
Hampir tak kurasa pahit meninggalkanmu
Sebagai gantinya biar kuambil semua derita
Hancur tak apa agar senantiasa mengingatmu
Biarkan aku menjadi diri sendiri
Jangan jadikan seperti mereka
Yang menghinakanmu, pura-pura mengingatmu
Yang mengingkarimu, tapi mengaku bersetia
Jangan pernah melupakanku di sini
Bolehkah aku memilih secepatnya mati
Namun jika ini adalah keinginanmu
Aku mau asalkan senantiasa ada hujan
Seperti tempat kita berbicara dahulu
Aku hanya ingin menangis
Aku hanya ingin menderita
Aku hanya ingin menerima
Seperti yang biasa kauperbuat
Aku hanya ingin mengingatmu
Seperti setiap titik hujan ini ...
"MISSION IMPOSSIBLE V"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick
Jatuh dan membenamlah dalam tanah
Hingga kala bangkit kalau lebih tinggi
Daripada malaikat pemilik butir cahaya
Demi mendekatiku yang menghinakanmu
Pecahkan air mata rindu menderitalah
Hingga tiada perasaan yang kau miliki
Biar aku meresap masuk sepenuhnya
Mission impossible ini sudah dimulai
Kupertaruhkan jantung penggerak alam semesta
Jangan merengek seperti tak bisa berbuat apa-apa
Aku memang sengaja membuatmu cacat
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Engkau musnah sekalipun apa peduliku
Dari debu lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh persendian ruhku
Panggil dan ratapilah namaku setiap detik
Hingga tiada yang lebih hina daripada kau
Kerjakanlah perintah tidak masuk akal ini
Akulah yang sepanjang hidup kaucari-cari
Kujamin langit dan bumi akan menyerah kalah
Jangan bingung seperti anak kecil hilang arah
Aku memang sengaja melubangi hatimu
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Hancur berantakan sekalipun apa peduliku
Dari debu lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh persendian ruhku
Aku tak menerima rayuan gombal palsu
Mengaku cinta tapi menomorduakanku
Aku berhak mengujimu sampai kapanpun
Karena hanya akulah tempat kembalimu
Aku memang sengaja membuatmu cacat
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Aku memang sengaja melubangi hatimu
Karena hanya inilah cara 'tuk mengenalku
Hilanglah jadi titik yang lebih kecil dari debu
Dari sana lahirlah ruh yang menggenggam
Memegang erat seluruh perhentian ruhku
Aku mencintaimu, aku hanya mencintaimu!
"SURGA DI KEMIRINGAN TANAH"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick
Kunjungilah surga di titik kemiringan galaksi ini
Jauh berbeda dari deskripsi kebanyakan orang
Tempat kami tak mengenal malaikat dan bidadari
Bahkan tiada kebahagiaan dan kehidupan apa pun
Selain cahaya terang yang belum pernah kauketahui
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Berlarilah mendekati surga di kedalamanmu sendiri
Buang kerangka berpikir salah yang selalu mengendap
Kami tidak menyajikan kenikmatan fana ala tempatmu kini
Bahkan air mata di bumilah yang menjadi kunci rahasia
Upayamu bersua sahabat terdekat yang paling kaukenali
Kami adalah peniup napas alam semesta ini
Kami tiada berbeda dengan dirimu yang sejati
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Jika pertemuan kita hanya menyayat luka perih berulang kali
Hidupmu di tanah asing bernama bumi adalah tragedi terburuk
Kematianlah satu-satunya jembatan penghubungmu dengan kami
Semakin banyak engkau tercabik semakin pula engkau memahami
Kami adalah peniup napas alam semesta ini
Kami tiada berbeda dengan dirimu yang sejati
Tinggalkan duniamu yang memisahkan kita
Kunjungilah surga di robekan hatimu sendiri
Kami sudah ada sebelum semesta dibentuk
Kami tetap kekal setelah langit dibuyarkan
Kami adalah dirimu dalam bentuk yang lain
Kami adalah penghuni rahasia jantungmu ini
Bagaimana mungkin engkau tak mengenali?
"TEMPAT BINTANG DIBENTUK DAN DITERBANGKAN"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir
Di tempat ini bintang-bintang kubentuk
Di sini pula mereka akan kupecah-belahkan
Di tanah ini bintang-bintang kuterbangkan
Di sini pula kelak mereka kutenggelamkan
Di titik yang sama ruhmu kutiupkan
Di titik ini pula kita akan dipertemukan
Kusayat jantungmu perlahan
Memasukkan semesta ke dalamnya
Tanpa menjahitnya kembali
Bilamanakah engkau menyadari
Betapa pahitnya ini untukku
Tak berani melihat air matamu
Tak tega menyaksikan deritamu
Di jantungmu ini kulukiskan perjalanan waktu
Di hari-hari panjangmu kuperkenalkan diriku
Di derai tangismu ada bahasa jeritanku
Di wajah marahmu ada kuasa hukumku
Dalam senyummu ada beribu ampunanku
Dalam cintamu ada segenggam penuh cintaku
Kurobek jantungmu perlahan
Memasukkan semesta ke dalamnya
Tanpa menjahitnya kembali
Bilamanakah engkau menyadari
Betapa getirnya takdir ini untukku
Semua demi kebaikanmu
Semua demi kebaikanmu
Kurobek jantungmu perlahan
Mengendapkan diriku sendiri
Hingga sepenuhnya milikmu
Bilamanakah engkau memahami
Kapankah kuberani berbicara
Betapa dalam aku mencintaimu
Betapa dalamnya mencintaimu
ConversionConversion EmoticonEmoticon