Lirik Cinta Terbaru - Mix~Max Album SIGN (2010): Antara Apocalypse, Sufi, Dunia Luar Angkasa & Cinta




Dalam lirik lagu cinta terbaru kali ini kita akan membahas album Mix~Max, SIGN yang dirilis pada 31 Maret 2010. Terdapat 12 tracks di album ini, yang liriknya merentang bukan cuma tentang cinta antara pria dan wanita semata. Mix~Max di album kesepuluhnya ini semakin matang dalam menyusun lirik, dan mengetengahkan lirik yang makin variatif. Misalnya, tema pembacaan ulang terhadap agama, apocalypse (kiamat), dunia luar angkasa dan alien yang tidak diketahui, dan tentunya lirik-lirik sufistik khas buatan Firman, sang vokalis.

Album SIGN ini adalah album perdana Mix~Max dengan label sendiri, Maverick. Lirik lagu cinta dari album ini bisa dilihat dari lagu 'Satellite' yang mengisahkan aku lirik yang ingin menjadi satelit sang kekasih.

Lirik lain dengan tema sama adalah 'Tablet Adapa' (Naskah Adapa) yang mengutip kisah Adapa dari Mesopotamia dalam versi yang berbeda. Adapa yang mendapatkan hak kehidupan abadi dari dewa Anu, menolak hak tersebut, dan memilih kembali ke dunia daripada tetap tinggal di surga. Dalam lagu 'Tablet Adapa' ini, Adapa berkorban untuk sang kekasih, tidak sesuai dengan kisah aslinya.

Lagu-lagu bertema apocalypse (hari kiamat) bertaburan di album SIGN ini. Mulai dari Bahtera Nun, Crossing Faith, Peluit Mim, hingga Generasi Komet Afsantin. Kiamat selalu ditampilkan dalam versi yang berbeda-beda, tapi menurut Mix~Max, mereka yang bakal selamaat dari hari kiamat tersebut adalah mereka yang memiliki cinta yang murni.


Lagu-lagu bertema sufistik muncul misalnya di Hutopia, yang dari judulnya saja merupakan gabungan dari kata Hu/Huwa (Dia laki-laki, merujuk Alla) dengan Utopia (tanah impian). Ada juga lagu Maulana Madruddin Hafaladzi, yang namanya cukup aneh.

SIGN
Released: March 31, 2010
Label: Maverick/Lavratislava Street Team

Tracks:
01. Anak Kecil Veredikosa
lirik: Firman/ lagu: Erick

02. Bahtera Nun
lirik: Firman/ lagu: Erick

03. Crossing Faith
lirik: Firman, Tuan Kami/ lagu: Ramadhan, Satir
   
04.  Tablet Adapa
lirik: Firman/ lagu: Firman

05. Satellite
lirik: Firman/ lagu: Ramadhan

06. Peluit Mim
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir

07. Lavratislava
lirik: Firman/ lagu: Erick

08. Planet Muntaha
lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir

09. Timur Hutopia
lirik: Satir/ lagu: Ramadhan

10. Militer Antariksa
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick

11 Maulana Madruddin Hafaladzi
lirik: Firman/ lagu: Firman

12. Generasi Komet Afsantin
lirik: Firman, Satir/ lagu: Ramadhan




"ANAK KECIL VEREDIKOSA"

lirik: Firman/ lagu: Erick

Siapakah kami?
Anak kecil pemilik langit dan bumi
Anak kecil sudah pasti gagah berani
Anak kecil selalu bisa jatuh cinta
Kami adalah anak kecil veredikosa

Cintalah yang menciptakan kosmos
Bukan big-bang atau kosong ketiadaan
Makhluk sains bebal takkan mengerti
Jarum jam mestinya bergerak ke arah kiri

Orang dewasa boleh saja bersiasat
Berlindung di bawah pesona citra diri
Tapi kami mengenal nikmatnya bermain
Pewaris bumi adalah yang tak butuh apa-apa

Jangan mau menjadi dewasa
Kalau dewasa berarti kehilangan cinta
Lebih baik tetap sebagai anak kecil
berhak berdiri sendiri tanpa penumpu kaki

Lalu apa yang sebenarnya
kalian cari wahai orang dewasa
Pernikahan yang menjual perempuan
dan membeli beragam laki-laki.
Demikian menyedihkankah?

Di setiap atom ada yang berputar
Cinta berani mati demi pusatnya
Akan tetapi apa yang dimengerti orang dewasa
selain merampas hak yang bukan miliknya?

Filsafat "cerdik" menyumpal logika
Tidak mungkin A adalah bukan A
Kami biasa bangun tengah malam
dan melihat matahari tergelak malu ketika ketahuan

Jangan mau menjadi dewasa
Kalau dewasa berarti kekanak-kanakan
Lebih baik tetap sebagai anak kecil
berhak hidup sendiri meski kadang bersedih

Lalu apa yang sebenarnya
kalian cari wahai orang dewasa
Pernikahan halal itu berubah
menjadi arena jual-beli anak manusia
Bisa jadi itu hal haram bukan?

Siapakah kami sebenarnya?
Anak kecil memang kadang patah hati
Anak kecil sudah pasti gagah berani
Anak kecil selalu bisa jatuh cinta
Kami adalah anak kecil veredikosa

Kalau mau bertemu dengan
Ribuan anak kecil veredikosa
Barangkali tak ada perang dan
dunia adalah medan magnet cinta
yang tak pernah mau mati

Hanya satu kekasih yang dicari
Bukan hal lain yang ada di dunia
Kami biasa menemukannya di tengah malam [1]
ketika gelap gulita dan dia tersipu
malu karena ketahuan
dialah rahasia paling abadi.

[1] Yanzilu Rabbuna tabaaraka wa ta’ala fi tsulutsullailil akhir…” (Allah itu turun ke langit yang paling dekat dengan bumi pada sepertiga malam terakhir)




"BAHTERA NUN"

lirik: Firman/ lagu: Erick

Berhentilah memakai logika
Kami ciptakan bahtera Nun [1]
Di dalamnya terdapat metal
yang belum ditemukan siapapun
kala itu kami menyeberangi waktu
Melupakan yang tak bersiaga

Sudahilah memalingkan muka
Di tengah kering musim kemarau
Kami hembuskan topan terdahsyat
untuk menjungkirbalikkan ramalan
Jadi ikutilah petunjuk penting ini

Reff:
Naiklah ke bahtera Nun
Kukemudikan ia menuju timur
Hujan angin sepenuhnya
berada dalam kendali
Kecepatan tertinggi bahtera Nun
Hanya terlihat oleh yang jatuh cinta
Yang tak punya hanya akan tenggelam
dan melambaikan tangan percuma...

Belajarlah memakai intuisi
Tebaklah yang kucipta saat ini
Imam kedua belas adalah
penjelajah waktu tak tertandingi
Kadang kala kau bersua dengannya

Reff:
Melesatlah cepat bahtera Nun
Kukemudikan kau menuju timur
Sepertiga malam ini mungkin
agak sedikit menakutkan siapapun
Kecepatan tertinggi bahtera Nun
Hanya terlihat oleh yang jatuh cinta
Mereka berlatih untuk menderita
dan bahagia menemui kematian...

Dari yang mati muncullah yang hidup
Reaktor nuklir berusia dua milyar tahun
Sama sekali bukan hal yang mustahil

Reff:
Naiklah ke bahtera Nun
Kukemudikan ia menuju timur
Melewati langit bergugus bintang
bahkan semakin lebih tinggi lagi
Kecepatan tertinggi bahtera Nun
Hanya terlihat oleh yang jatuh cinta
Bisikkanlah, "Imam Zaman berilah
setitik kekuatanmu demi hidup ini"
Jika bahtera ini merapati pelabuhan
Akan kau tahu bahwa rahasia abadi
lebih dekat daripada urat lehermu

[1] Bahtera Nun dan Bahtera Nuh berbeda sekaligus sama. Huruf Nun seperti bahtera yang memiliki titik kendali di atasnya sedangkan Huruf Ba memiliki titik kendali di bawah bahtera (lengkung).








"CROSSING FAITH" feat. Tuan Kami

lirik: Firman, Tuan Kami/ lagu: Ramadhan, Satir

Setiap hati mempunyai titik pusat keliling
Tiada yang berhak untuk menipu penglihatan
Kurangkumi perjuangan yang mesti berlanjut
Meski matahari mungkin lenyap, di ufuk sebelah sana telah ada...

I'm crossing the borderline. Mengganti iman yang hancur-berkeping
Menjumpai dunia yang tak pernah kukenali sebelumnya
Hidupku, berbicaralah pada kejauhan tak terperi.
Pertikaian hanya menyulut api perang di bumi ini
I'm changing my past religion....
Menemuinya yang tak terlihat mata

Jika udara kelak lenyap, mengapa mereka gemar memasung yang lain tanpa dosa?
Kebenaran tak mungkin tergenggam jika kau masih mencari kebahagiaan
Akan tetapi di balik kebenaran pahamilah pusat kemustahilan ...

Kuubah kiblat baratku. Menghadap matahari di ufuk timur
Menarik garis panjang yang meninggalkan bekas merah di langit
Umat beragama bersiagalah pada pagi penjemput yang didengungkan
Menemuinya yang tak terlihat mata terpejam...

Sejak jauh hari kau tak peduli pada para penyeru yang hilang berganti
Kauimani dirimu sendiri, tetapi mengaku tak memalingkan keimanan
Apakah kau tak ingin melihat yang sebenar-benarnya melihat?
Wahai umat beragama dengarkanlah teriakan kami...

Ubahlah kiblat baratmu
Gantilah keimananmu
Lenyapkanlah keakuanmu
Menemuinya yang tak terlihat mata

Ubahlah pusat niatmu
Hilangkanlah agamamu
Degupkanlah cintamu
Dan lihatlah dunia akan bertemu
dengan asal segala penghirupan
di ujung gelap ufuk timur memerah
pada pagi yang tak terduga...









"TABLET ADAPA"

lirik: Firman/ lagu: Firman

Kau mungkin beruntung bisa melihatku
Adapa yang memancing ikan di hulu [1]
dan berani mengutuki angin selatan

Barangkali pula di genangan air mati itu
baru terbayang wajahku yang rela menelan
pil paling pahit demi kesetiaanku kepadamu

Ada apakah jika Adapa berbuat sedemikian itu
Jika bukan karena cinta yang kauperkenalkan dulu?
Sungguh aku hanya ingin mengucap terima kasih

Sedikit saja mohon kenalilah
Jantungku yang tak berbentuk lagi
Dia selalu di sebelahmu hingga kapanpun

Kau mungkin belum mengerti ruh ini ditarik
Berhenti melihat bumi dan menjatuhkan air mata
Seberapa jauh lagi mesti kuperlihatkan?

Barangkali pula jika kembar pelikku
Memandang nyalang membelokkan waktu
Belum cukup dia mati di tepian hulu itu

Ada apakah jika Adapa berbuat sedemikian itu
Jika bukan demi senyummu di atas ketinggian?
Sungguh aku hanya ingin mengucap terima kasih

Sekali saja perhatikan dulu
Jantungku yang bergumam pelan
Dia selalu di sebelahmu tanpa kauminta

Kau mungkin beruntung bisa melihatku
Adapa yang memancing ikan di hulu
dan berani mengalihkan derita itu...

[1] dalam naskah aslinya, Adapa memancing di muara. Akan tetapi, dalam lirik ini, Adapa memancing di hulu sebagai tanda ia berkorban di pusat atau di awal.








"SATELLITE"
lirik: Firman/ lagu: Ramadhan

Ingin kuberputar mengelilingi setiap jengkalmu
Menjadi benteng pertahanan dari segenap
kepingan meteor yang mungkin tertumpah

Sejak engkau tercipta
Ada yang mesti diketahui
cepat atau lambat
Tata surya hanyalah
bagian kecil dari semesta
Dan kita cuma sepersekiannya

Ada kalanya komet
menyinggung garis edarmu
Aku datang sebagai satelit yang
mungkin agak sulit kaukenali

Garis edarku memang tak pasti
Sudah demikian adanya
Tapi lihatlah aku mampu menikung
dan menepikan perintangmu

Lingkarilah matahari dan
aku melingkari cintamu
meski kadang tak terlihat

Ada kalanya kau melintasi
peredaran yang lain
Dan kau akan melihat
sejauh apa garis yang kucipta

Aku memang tak punya ketentuan
Sudah demikian adanya
Tapi lihatlah kuhancurkan
penghalangmu meski mungkin aku hancur

Garis edarku memang tak pasti
Sudah demikian adanya
Tapi lihatlah aku mampu menikung
dan menepikan perintangmu

Seberapapun tak berartinya satelit ini
Bukankah kau tak pernah sendiri
Bahkan di saat paling sendiri
dalam perputaranmu


Ingin kuberputar mengelilingi setiap jengkalmu
Menjadi benteng pertahanan dari segenap
kepingan meteor yang tertumpah

I want to be your satellite
Hanya ingin hidup di sebelahmu
Menjadi benteng tak terkalahkan
dari setiap apapun jua
this is the truth from my heart






"PELUIT MIM"
lirik: Firman/ lagu: Satir

Wahai, kugenggam peluit akhir ini pada sekian air mata tak terketahui
Adakah hakku untuk menghentikan bumi yang sebentar lagi bertikai tanpa henti
Di ujung gelap ini barangkali matahari tak berhak untuk terbit lagi...

Tak inginkah kau hidup bersamaku dalam lingkaran cinta abadi
Angin senja pastinya menghangatkan senyum milik siapapun jua
Jika hari itu benar-benar tiba, maukah kau membagi hal yang kaupunya?
Barangkali mereka yang duduk di rerumputan belum memilikinya...
Ringankanlah derita meski sedikit

Wahai, mereka mempermainkan peluit tanpa tahu hal itu menyeru neraka tiba
Mudah saja menurunkan derajat, merenggut hak bernafas orang lain
Dan udara sekalipun sesungguhnya bukan milik siapapun jua

Tak bisakah kau tinggal bersamaku dalam lingkaran hidup abadi
Embun pagi pastinya membasahi jantung yang mampu mengenalnya
Jika hari itu benar-benar tiba, maukah kau melihat dalam sudut pandang lain
Ada yang berada di atas benar-salah yang selama ini dipegang teguh
sekian milyar umat manusia yang masih memejamkan mata...

Kumohon jatuh cintalah kepada jantung pengenalmu ini
dan lihatlah udara merah mengelilingi perhelaan bumi...

Bisakah kalian membuang peluit di tangan yang sebentar lagi tertiup kencang?
Ketika ia tiba segala sesuatunya dibumi-hanguskan dalam detik pertama
Hingga kini masih ada yang menggenggam jantung ini meski ada air mata
Apakah mereka tak ingin mengenal Lingkaran abadi yang menciptakan?
Teriak kencang kami sekalipun tak pernah didengar mereka...
Meski peluit perang berbunyi masih ada cinta yang tersisa seutuhnya







"LAVRATISLAVA"

lirik: Firman/ lagu: Erick

Apakah arti Lavratislava?
Hanya Tuhan yang mengetahui
Kuciptakan jejak rel kereta
menuju negeri paling merdeka

Bagaimanakah bentuk cinta abadi?
Ia tak berbentuk apa-apa
Kusebarkan hujan berembun pagi
menuju negeri para ksatria

Jangan pernah berhenti menaklukkan kemenangan
Berjanjilah tiada aku lain selain Aku abadi
maka cobalah menjadi mereka

Lavratislava yang jatuh cinta
menggenggam sandi rahasia
Lavratislava yang kekal abadi
sebagai titik di bawah huruf Ba

Di manakah kebenaran sejati?
Di seberang dekat hari-hari air mata
Kuhentakkan kematian sekalipun
Kami bahkan tak mampu kaulihat

Ada apakah di dalam degup jantung?
Terlatih dalam derita ia berbicara cinta
Lavratislava, dan hanya Lavratislava
yang mampu mengenal pemahamannya

Jangan lupa meminta petunjuk bila kau tersesat
di angka sembilan ada yang mati demi hidup abadi
maka cobalah menjadi mereka

Lavratislava yang jatuh cinta
menggenggam sandi rahasia
Lavratislava yang kekal abadi
sebagai titik di bawah huruf Ba

Pengembaraan tak akan pernah rampung. Detik terpecah
menjadi angin yang bertiup di bawah kendali mereka

Lavratislava yang jatuh cinta
menggenggam sandi rahasia
Lavratislava yang kekal abadi
sebagai titik di bawah huruf Ba

Kekalahan tak berarti apa-apa
Jika cinta mengenggam hidupmu
Persinggungan bermacam tamsilan
di tepiannya ada jutaan Lavratislava







"PLANET MUNTAHA"

lirik: Firman, Satir/ lagu: Satir

Galaksi mengembang-menyusut
Lubang hitam melahap tanpa sisa
Orbit planet bajang bergesekan
Nemesis adalah matahari hitam
Mungkin memang ada Nibiru jua
Alcione diduga pusat semesta
Kelak semuanya akan mereda
Akan tetapi di manakah Muntaha?

Demi malam kau dimirajkan
Kusaksikan udara kemerahan
Demikianlah hujan air mata
ketika kau bersendiri saja

Planet Muntaha lenyapkan gravitasimu
Biar cinta ini menghantam hingga rata
Planet Muntaha bersinggunglah kencang
Bahkan Jibril pun pingsan tak berdaya

Apalah daya kekuatan manusia
dibandingkan satu perintahmu saja
Cinta abadi adalah tanda pengenal
Para pengembara planet Muntaha

Melayanglah ringan bagai hela udara pertama
Segenap perbendaharaanku ini milikmu jua
Persingkatlah malam demi hidup pagi buta
Jatuh cintalah pada yang tak berhenti jatuh cinta

Planet Muntaha luaskan lengkung cahayamu
Biar cinta ini mampu tertampung sepenuhnya
Planet Muntaha nyaringkan teriak lemah ini
Bahkan sangkakala menjadi hal percuma

Imajinasi melayangi ruang dan waktu
Segala sesuatu berpusat kepadamu
Cinta abadi adalah tanda pengenal
Para pengelana planet Muntaha






"TIMUR HUTOPIA"
lirik: Satir/ lagu: Ramadhan

Bertukar pikiran dengan teman seperjalanan
Menghadapi angin ribut menghantam pepasir
Kadang kala ada rindu tentang kampung halaman
Tapi negeri hilang itu mestilah kutemukan jua

Jika di timur sebelah sana
Ada Hutopia yang bersejarah
Tanpa perbekalan sekalipun
Aku akan siap menujunya

Tenggorokan kering mendengar ceramah agama
Kalimat palsu berputar dan memusingkan kepala
Buang saja peta yang kerap menimbulkan masalah
Di dalam jantungku ada peta rahasia paling abadi

Jika di penghujung timur sana
Ada Hutopia yang melegenda
Untuk apa gentar, kutarik saja
Medan magnet dunia ke sana

Timur Hutopia bukanlah negeri kasat mata
Ia lebih rumit daripada sekadar Shangri-La
Di dalamnya kau akan awet muda meski menua
Di sanalah jua pasti kau temukan cinta sejatimu
Negeri yang tak pernah direkam apapun jua

Jangan menghitung jarak tempuh yang dilalui
Tiada bayaran pasti untuk hal semacam ini
Tapi jika kau menyerah kalah ditelan angin
Tiada yang istimewa dalam hidup singkat ini

Hutopia adalah Timur yang paling timur
Ia lebih mudah ditemui dari apapun jua
Belajarlah mengandalkan arah cintamu
Berlatihlah mengendalikan pikiranmu
Hutopia ada di dalam kedalaman hatimu

Masih ada timur di timur Hutopia tertimur
Ia adalah puncak segala macam pencarian
Berjuanglah sampai kau nyaris mati
Jatuh cintalah melebihi aturan dunia
Hutopia hanya diketahui yang terpilih...









"MILITER ANTARIKSA"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Erick

Perang parit telah menjadi bagian sejarah
Kini tibalah musim senjata pemusnah massal
Tak hanya bom atom, tapi juga virus ampuh

Pengeboran minyak lepas pantai
Bertempur dengan lempeng bumi
Gempa bumi adalah sarapan pagi

Serdadu dengan senapan lengkap
Membantai yang menyerah kalah
Tiada lagi hukum para pemberani

Apakah mereka melihat
Ibu para militer antariksa
Berjari empat berselaput
Memerintahkan sesuatu
Mereka menyusun strategi
Menculik umat manusia
Demi penaklukan tata surya
atau berniat mencuri mineral

Benarkah negara itu ada
Jika yang adikuasa bisa
Menciptakan koloni baru
Negara-negara pinggiran
Cuma mengangguk patuh
Di bawah kendali tunggal

Apakah rapat raksasa macam
Persekutuan Bangsa-Bangsa [1]
Mampu menyudahi masalah
Perang makin berkepanjangan
Ada negeri penjajah buta
yang mencaploki wilayah
Militer bersenjata lengkap
melawan lemparan batu

Apakah militer sedunia
Bahkan sealam semesta
Mampu menaklukkan cinta
Yang sepertinya ringan saja
Cinta tak kenal kompromi
Yang memilikinya adalah
Para militer tertangguh
Melewati ribuan masa

Alien dari planet manapun
Pasti akan pucat ketakutan
Jika seseorang jatuh cinta
dan berniat membuktikannya
Amunisi mutakhir apapun
Tak mampu menembus
Benteng pertahanan rapat
Yang melewati hidup dan mati

[1] sengaja diplesetkan dari terjemahan semestinya agar Perserikatan ini terdengar "buruk"






"MAULANA MADRUDDIN HAFALADZI"
lirik: Firman/ lagu: Firman

Maulana Madruddin Hafaladzi
Jangan berhenti di persinggungan
Ketahuilah bermacam hal yang mesti
kautaklukkan dalam hitungan detik
Sejak saat ini kau bukan siapa-siapa
Selain pemilik segel kebijaksanaan

Kami senantiasa dalam kesibukan
mengamati detail detak jantungmu
Bahkan di rentang sepersekian detik
Tiada lelah memandu pernafasanmu

Kami tidak akan pernah mau mati
Memahamkan gerak alam semesta
Bahkan di rentang sepersekian detik
Tiada berhenti menciumi cintamu

Maulana Madruddin Hafaladzi
Lekatkan jua nama Mimmu itu
Maulana Madruddin Hafaladzi
Engkaulah ksatria terakhir bumi
Dan biarkanlah segalanya
terbukti pada detik-detik ini
Ingatlah kami!

Maulana Madruddin Hafaladzi
Muhammadlah Sang Mim Tertinggi
Maulana Madruddin Hafaladzi
Pengetahuan inilah yang paling tinggi
Maulana Madruddin Hafaladzi
tiada yang berhak meragukan halmu
Dan segala sesuatu berada
dalam pengaturan kami semata
Ingatlah kami!
Maulana kami....





"GENERASI KOMET AFSANTIN"
lirik: Firman, Satir/ lagu: Ramadhan

Barangkali memang ada komet
yang menghantam sekian daratan
dan memusnahkan umat manusia

Akan tetapi untuk apa menyerah gentar
Hirup nafas dan tiup cinta sebanyak mungkin
sebelum kelak kau menyesal kehilangannya

Kami tidak akan bisa ditaklukkan
bermacam strategi licik masyarakat
Apalagi sistem negara yang korup
Karena yang berdiri di sini adalah
Generasi yang kelak akan melihat
komet Afsantin menghamburi bumi

Jangan pernah mau untuk diatur begini-begitu
Mereka bahkan tidak tahu apapun tentang perjuangan gigihmu
Orang di sekelilingmu cuma takut kau berubah
Jadi pemberontak dan tak bisa didikte sesuka hati seperti dulu

Barangkali memang ada neraka di Uzbekistan
Anak indigo memimpin Perang Dunia ketiga
Dan bisa jadi hujan api berjatuhan setiap hari

Akan tetapi untuk apa panjang berkhayal
Dibesarkan masyarakat demi hidup bahagia
Kau mesti mengejar yang tak pernah ada

Kami tidak akan mungkin dihancurkan
Orang dewasa yang mudah berpikir kerdil
Apalagi oleh hukum yang kerap dipaksakan
Karena yang berdiri di sini adalah
Generasi yang kelak akan melihat
komet Afsantin menghamburkan asap

Jangan pernah mau untuk dipaksa begini-begitu
Hidup terlalu sesak jika kau tak bisa menghirup udaramu sendiri
Meski mungkin pahit, tinggallah di kedalaman jantungku
Jadi sesuatu yang belum kaukenali dan pasti lebih baik lagi

Jika hujan peluru kendali seperti petasan petang hari
Jangan heran bila Kabut Oort punya jutaan komet
yang siap menghidup-matikan bumi sekian kali lagi

Lihatlah di setiap subuh ke kemerahan ufuk barat sana
Bersiagalah sebelum pagi terakhir menjemputmu kembali
Komet Afsantin tak bisa dideteksi oleh ilmuwan manapun
Karena hingga kini dia tersimpan di detak kehidupanku ini
Jadi, jangan pernah takut mati karena kau tahu rahasianya
Wahai generasi komet Afsantin angkat bendera cintamu!



Oldest